Jumat, 16 November 2012

Analisa Pewarna Metode Kromatografi Kertas

Makanan jajanan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan pada kehidupan masyarakat, baik di perkotaan maupun pedesaan. Keunggulan makanan jajanan adalah murah dan mudah didapat, cita rasanya enak dan cocok dengan selera kebanyakan orang. Makanan jajanan meskipun memiliki beberapa keunggulan, tetapi juga beresiko terhadap kesehatan. Hal ini disebabkan oleh penanganannya yang sering tidak higienis, akibatnya peluang bagi mikroba untuk tumbuh dan berkembang cukup besar. Selain itu dalam proses pembuatannya sering kali ditambah-kan Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang tidak diizinkan.
Sejumlah penelitian tentang zat pewarna terutama yang bersifat sintetis telah banyak dilakukan. Zat pewarna Phloxine B (Fukuda, 1984), D&C Yellow no.8 (Burnet, 1986) bersifat teragenik dan sangat berbahaya, begitu juga dengan zat pewarna merah Rhodamin B pada kerupuk merah dilakukan, tampaknya PLATO mampu untuk mendorong siswa belajar lebih cepat. Walaupun demikian, hasil ini baru merupakan hasil sementara, yang perlu di kaji lagi untuk masa mendatang.
Zat pewarna yang belakangan ini telah mulai disadari kesan negatifnya yang juga di duga sebagai penyebab kanker. Dari penelitian FAO dan WHO didapatkan bahwa penggunaan zat pewarna sintetis pada makanan dan minuman mencapai 70%.
Penggunaan zat pewarna yang melebihi batas maksimum yang diperbolehkan dapat memberi dampak negatif bagi kesehatan. Ponceau 4R merupakan zat pewarna golongan azo yang bersifat karsinogenik. Penyakit kanker yang ditimbulkan senyawa azo sebenarnya tidak disebabkan oleh senyawa azo, melainkan oleh hasil metabolisme senyawa tersebut, misalnya 2,2 azonaftalen dapat direduksi menjadi 2 molekul beta naftilamin yang diketahui mempunyai sifat karsinogenik kuat pada kandung kemih.
Penggunaan Erythrosin secara berlebihan menyebabkan reaksi alergi pada pernapasan, hiperaktif pada anak, tumor tiroid pada tikus dan efek kurang baik pada otak dan prilaku. Penelitian yang dilakukan pada tikus yang di beri Erythrosin dalam diet dengan dosis besar
yaitu 400 mg/kg BB/hari mengalami gangguan pertumbuhan. Pemberian dosis tinggi Erythrosin juga dihubungkan dengan penurunan berat badan pada tikus betina. Selain bersifat karsinogenik, bahan ini dapat juga bersifat toksisitas akut dan hipertropi kelenjar gondok, hiperplasi kelenjar gondok dan mening-katkan insiden neoplasma kelenjar gondok.
Analisis Kualitatif Zat Warna Dengan Cara Kromatografi Kertas
- Sediakan 50 gram sampel, tambahkan 10 ml asam asetat encer 10%v/v lalu dimasukkan benang wool bebas lemak secukupnya.
-  Panaskan diatas nyala api kecil selama 30 menit sambil di aduk.
-  Benang wool dipanaskan dari larutan dan di cuci dengan air dingin berulang-ulang hingga bersih.
- Pewarna dilarutkan dari benang wool dengan penambahan ammonia 10% di atas penangas air hingga sempurna.
-Larutan berwarna yang di dapat di cuci lagi dengan air hingga bebas amonia.
-  Totolkan pada kertas kromatografi, juga totolkan zat warna pembanding yang cocok.
- Jarak rambatan elusi 12 cm dari tepi bawah kertas. Elusi dengan eluen I (etil-metalketon : aseton : air = 70:30:30) dan eluen II (2g NaCL dalam 100ml etanol 50%).
-Keringkan kertas kromatografi di udara pada suhu kamar. Amati bercak-bercak yang timbul.
-Penentuan zat warna dengan cara mengukur nilai Rf dari masing-masing bercak tersebut, dengan cara membagi jarak gerak zat terlarut oleh jarak zat pelarut.

Ponceau 4R


Sumber : 
http://repository.unand.ac.id/466/1/Hal_71-76._Zat_Warna-Isi.doc
http://en.wikipedia.org/wiki/Erythrosine
http://en.wikipedia.org/wiki/Ponceau_4R

Poll